CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Sabtu, 24 Maret 2012

Ternyata PR Merepotkan Orang Tua

 



Pekerjaan Rumah (PR) yang sejatinya diperuntukkan untuk siswa agar meluangkan waktu melatih diri mengulang pembelajaran di rumah, ternyata bagi sebagian orang tua justru merepotkan. Ada kesenjangan yang tercipta pada kondisi pelajaran siswa di sekolah dengan orang tua.
Kebanyakan orang tua mengeluh tentang materi pelajaran anaknya yang sangat berbeda dari pelajaran masa sekolahnya dulu. Kesulitan itu terjadi tidak hanya pada mata pelajaran eksakta seperti IPA atau matematika, namun juga untuk pelajaran ilmu sosial dan bahasa.

Saya tidak bisa mengajari anak-anak saya di rumah karena saya tidak mengerti materi pelajaran anak saya, makanya mereka saya masukkan ke bimbel “

Itulah salah satu cara orang tua mengatasi masalah ini, yang pada akhirnya tetap meminta bantuan pihak lain untuk mengajak anaknya belajar.

Masalahnya jadi bertambah banyak buat anak:  Yang pertama, PR tetap banyak, yang kedua, waktu anak untuk beristirahat dan bermain sekarang harus direlakan untuk mengikuti bimbel. 

Bagi anak Anda yang masih kelas bawah di sekolah dasar  sebaiknya anak  dibimbing dari awal oleh orang tua, agar orang tua pemahaman materi bisa dimulai dari awal. Dengan begini, kedekatan anak - orang tua pun akan tercipta. Biasanya materi kelas 1 hingga kelas 3 masih mudah dan bisa diikuti orang tua, terutama ibu rumah tangga.

 Yang merepotkan orang tua sebenarnya adalah rasa malas dan tidak sabar menghadapi anak kecil yang terkesan tidak menurut kalau diajari oleh orang tua sendiri atau keadaan anak yang memang dinilai tidak ngerti-ngerti kalau diajari. Tidak bisa dipungkiri memang, seorang ibu rumah tangga atau seorang pekerja sekalipun akan mengalami kesulitan dalam mengulang pembelajaran yang sudah bertahun-tahun tak pernah dibaca kembali. Dari kenyataan ini, kebanyakan orang tua jadi menyerah dan akhirnya “menyekolahkan” anak kembali ke bimbingan belajar.

Untuk anak yang mulai besar dan sudah duduk di kelas atas, berikan pada mereka buku-buku atau soal-soal yang bisa anda download dari internet yang sekarang jumlahnya sangat banyak. Orang tuapun membutuhkan buku-buku dan soal-soal latihan ini untuk persiapan tanya jawab dengan anak. Yang anak butuhkan di rumah sebenarnya adalah membaca ulang dan latihan soal saja.

Semakin banyak soal yang bisa mereka kerjakan, mereka akan lebih siap menghadapi soal-soal ujian di sekolah. Perlu diketahui, seorang guru yang memberikan ujian, tetap saja menggunakan panduan membuat soal yang tertuju pada kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran. Sehingga, soal akan berputar-putar saja di sekitar itu.

Namun, semakin tinggi tingkatan siswa, orang tua semakin takut melihat PR anak-anak. Sekali lagi, bimbel kemudian jadi incaran. Dengan bimbel ini orang tua sedikit merasa lega seolah-olah di bimbel semua kendala bisa dihilangkan. Padahal, sekali-kali orang tua harus juga “melirik” apa yang dilakukan anak-anak kita di tempat bimbel.

Sebagai guru yang bertahun-tahun mengajar di bimbingan belajar untuk anak-anak level SMP dan SMA, saya menyaksikan lebih dari separuh kehadiran mereka di bimbel adalah untuk memuaskan hasrat orang tua. Sehingga, demi menghindari amarah dan kegelisahan ibu dan bapak di rumah, anak datang dengan tidak banyak semangat untuk belajar. Di dalamnya, mereka hanya melepas lelah dan hanya mengobrol dengan teman-temannya.

Orang tua harus mempertimbangkan hal tersebut sebagai suatu keadaan yang tidak bisa dipaksakan begitu saja, terutama pada anak-anak yang relatif masih kecil. Untuk level SMA, misalnya, sedikit-sedikit memang akan terjadi pergeseran kebutuhan mengingat mereka sudah mulai merasa butuh untuk menghadapi Ujian Nasional dan masuk Perguruan tinggi. Maka akan dirasakan berbeda auranya jika sudah mendekati UN dan SNMPTN.

Di bimbingan belajarpun jangan harap apa yang dibutuhkan anak Anda dapat dipenuhi, karena biasanya kelas dalam bimbel berisi siswa dari berbagai sekolah yang berbeda. Pencapaian belajar masing-masing sekolah yang tidak sam juga menjadi kendala buat anak. Kadang di sekolah belajar A, namun di bimbel belajar B, sehingga PR yang diberikan guru tetap tidak bisa dikerjakan oleh siswa.

Jikapun anak Anda harus ikut bimbel, sebisa mungkin upayakan berisi anak-anak yang level pelajarannya sama, yang memiliki target pembelajaran, yangbisa menjawab kebutuhan anak, yang memperhatikan perkembangan belajar anak Anda, yang mempunyai guru bimbingan konseling, yang jumlah siswanya sedikit, yang menyediakan layanan bertanya tentang materi pelajaran dan PR. Jika tidak bisa, ada baiknya Anda mencoba guru privat untuk anak anda

koleksi saya di kompasiana :  http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/20/ternyata-pr-merepotkan-orang-tua/

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah meninggalkan pesan ..