CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Selasa, 17 Agustus 2010

Diary Sang Guru : Episode 1

Saya termenung menatap sekolah berpagar biru itu. Sekolah yang bagus. Gedungnya kokoh. 4 lantai. Megah. Uang masuknya sepuluh jutaan pada saat sekolah lain hanya dua jutaan. Secara hitung-hitungan, sekolah ini harusnya 5 kali lebih baik dari sekolah lain. Di sebelah sekolah ini, ada SD Inpres yang kumuh. Catnya mulai mengelupas. Ya, namanya juga sekolah negeri. Lho? apa hubungannya ya ? Hmmm... mungkin saja ada.
Biasanya sekolah negeri kumuh-kumuh. Tak ada yang boleh menyalahkan pendapat saya, karena saya melihatnya begitu. Bahkan di daerah asal saya, ada SD negeri yang ambruk pada saat murid-muridnya sedang belajar. Pastilah tak jauh berbeda dengan SD negeri yang lainnya. Tapi belakangan ini, sekolah-sekolah negeri berbenah. Ada BOS yang mendanai. BOS itu dari pemerintah. Kependekan dari Biaya Operasional Sekolah.
Jadi, biaya operasional penyelenggaraan sekolah sudah dibiayai oleh pemerintah. Selayaknya sih, setelah dana itu turun, pendidikan di negara kita harus lebih baik dari sebelumnya. Tapi entahlah, lingkaran setannya terlampau besar dan mengerikan. Sistem pendidikan yang aneh.

Kita kembali lagi ke sekolah berpagar biru. Sekolah ini adalah tempat saya bekerja. Awalnya, saya tak habis pikir, kenapa murid-muridnya memberi julukan "penjara" pada sekolah sebagus ini.
Saya memang pernah membaca banyak artikel tentang sekolah dan pendapat orang tentang sekolah. Kebanyakan siswa memang menyatakan bahwa sekolah adalah penjara. Lantas, untuk apa mereka mau dipenjara ya? Apa bedanya dengan Penjara Cipinang ?
Hmm... saya sebetulnya agak deg-degan dengan sekolah ini. Jangan-jangan sayapun akan 'terpenjara juga". Kita lihat saja ya...

Umumnya, peraturan yang dibuat sekolah yang demikian ketat, membuat mereka merasa terpenjara. Saya pernah juga mengajar di sekolah lain di lain daerah. Perasaan, peraturannya tak jauh berbeda. Kenapa harus 'serasa di penjara " ya ?

Kita tinggalkan dulu sekolah ini, saya ingin memperkenalkan diri saya. Saya adalah guru di SMA Kencana Mentari ini, terhitung sejak 5 tahun yang lalu. Saya mengajar mata pelajaran ekonomi. Baru satu tahun saya diangkat jadi guru tetap di sini. Sementara, teman-teman yang lainnya 'tetap guru'.. hehe... ini adalah istilah yang beredar banyak di kalangan guru. Mungkin karena setelah 4 tahun baru diangkat jadi guru tetap, sementara guru yang belum 4 tahun tetap berstatus sebagai guru honorer. Karena banyaknya guru honor di sini, maka mereka dengan senang hati bersama-sama menjadi 'tetap guru'.
Guru honor ini adalah guru terbang. Istilah guru terbang diberikan karena sang guru boleh terbang bebas mengajar di sekolah mana saja, tanpa terikat aturan guru tetap. Guru tetap adalah guru yang setiap hari harus standbye di sekolah, ada atau tidak ada jam mengajar. Umumnya mereka mengajar 26 hingga 32 jam pelajaran per minggu. Wow. Jumlah yang fantastis. Tapi tak apalah, sebagai guru, saya merasa lebih terhormat dibanding anggota dewan di sana yang kerjanya cuma rapat doang juga bolos mulu, gaji sangat tinggi...dan lain sebagainya (hhhh... cemburu sosial). Sekali lagi, tak apalah, saya ikhlas. Selain itu, guru tetap juga merangkap sebagai wali kelas, atau jabatan lain yang lebih tinggi.

Saya mencintai dunia mengajar. Saya mencintai saat-saat di mana saya berinteraksi dengan murid-murid saya. Membahagiakan. Tapi, di balik bahagia ini, saya ternyata banyak belajar dari kehidupan mereka. Di epidose yang lain saya akan ceritakan kisah-kisah saya dengan mereka.
Betapa, mereka adalah pualam...kita yang harus mengasahnya sehingga jadi permata.

Saya menyebut catatan ini sebagai Diary Sang Guru.

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah meninggalkan pesan ..