CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »
Tampilkan postingan dengan label Diary Sang Guru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diary Sang Guru. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Agustus 2010

Diary Sang Guru : Episode 3

Hari ini anak-anak saya mengesalkan. Saya agak dongkol menghadapi mereka.
"Ibu... Ibu kan wali kelas. Ibu harus bertanggung jawab dong!", Dona berkata agak berapi-api.
"Tanggung jawab apa?", saya masih belum nyambung.
"Aku gak mau nyuci piring. Anak-anak cowok ga pernah mau piket. Aku capek". Dona masih tersungut-sungut.
"Lho... pembagian tugasnya bagaimana toh mbak?"
"Ada Bu... tapi anak cowok kebangetan. Sekarang aja, piring diberantakin di kelas. Masa aku yang beresin sendiri ?".
Saya jadi mengernyitkan dahi. Ada apa sih anak-anak jadi ga mau piket begini ?
"Eh Dona sayang, siapa aja yang hari ini piket ? Ayo kita ke kelas!", saya menggamit lengan Dona menuju kelas.

Wow. Luar biasa.
Sekitar dua belas piring berserakan di lantai. Saya menghitungnya dengan menunjuk satu per satu. Apa-apaan ini? darah saya jadi tiba-tiba mendidih.
"Siapa yang hari ini piket mencuci piring bekas kalian makan ?", saya masih mencoba menjaga wibawa.
Seisi kelas sunyi senyap. Mereka membiarkan saya mencari jawabannya sendiri.
Hmmm... rupanya mereka ingin saya marah. Tapi, bagaimana caranya ya?
"Mas-mas dan mbak-mbak, tolong jawab pertanyaan saya, siapa yang seharusnya membereskan dan mencuci semua piring-piring ini atau saya yang akan membereskannya sendiri!", nada bicara saya semakin meninggi.
Anak-anak ini rupanya benar-benar mengetes kesabaran saya sebagai wali kelas yang baik.
Rese'. Saya jadi mengumpat dalam hati. Tak ada yang menjawab satupun.

Akhirnya dengan tangan gemetar menahan marah, saya mengambil piring satu per satu. Perlahan. Saya menunggu reaksi mereka. Bayangkan, 25 anak. Masa sih tak ada yang mau membantu saya. Ironisnya, anak-anak hanya memandangi saya.
Hah? Ini piring ke delapan. Semua jadi berubah sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Saya sempat melihat Fathin Annisa asik memainkan HPnya, atau Zahra yang bersenda gurau dengan Dimas dan Joko. Ingin rasanya saya menjerit. Tapi setelah dipikir-pikir, kenapa harus menjerit ya? Saya merasa harus membereskannya sendiri. Jangan-jangan mereka marah sama saya karena saya akhir-akhir ini agak sibuk dengan kegiatan ulangan semesteran. Mungkin mereka sedang meminta perhatian.

Oh my God. Sampai semua piring terkumpul, tak satu pun mereka mempedulikan saya. Sialan!... saya jadi mengumpat lagi dalam hati. Astaghfirallah.

"Terima kasih ya...", saya merasa kata-kata itu terucap dengan terbata-bata. Saya sedih.Ada apa dengan anak-anak ini ?
Akhirnya saya keluar dari kelas dan membawa piring ke dapur, perasaan, air mata ini hampir jatuh.
Dada saya terasa sesak.
Saya mencoba ke kantor, kembali ke meja kerja. Biarlah anak-anak menyelesaikan masalahnya sendiri. Ga enak juga kalau saya menangis di depan anak-anak.

Ternyata, di kursi di depan meja saya, sudah ada Jojo dan Melinda.
Mereka agak tidak enak melihat saya.
"Bu... Ibu marah ya ?"... saya masih terdiam.
"Bu... anak-anak mau minta maaf sama Ibu...", Jojo sang ketua kelas menimpali Melinda.
Saya masih enggan bicara.
"Bu... maafin kami ya...", Melinda merajuk. "Ayolah Bu ikut ke kelas... anak-anak nunggu"
"Kenapa ga di sini aja ? Kamu kan sedang minta maaf sama saya ?", saya mencoba bertahan.
"Ga enak Bu sama Guru yang lain. Ibu ke kelas aja yuk...", Melinda merajuk lagi. Lengan saya ditarik.
"Ya sudah", saya memutuskan ikut mereka ke kelas.
Saya sudah mulai meluluh. Sekalian, biar tahu ada masalah apa sih mereka. Ko tumben-tumbenan membuat saya hampir menangis.
Jojo masih menundukkan kepala. Ga enak dia. Dia itu ketua kelas yang sepertinya sih sayang banget sama saya. Dia sudah piatu. Biasanya dia berkeluh kesah curhat sama saya. Kenapa hari ini dia jadi begini ya?
Banyak pertanyaan di kepala saya.

Saya membuka pintu kelas.
Tiba-tiba anak-anak berteriak-teriak. Tertawa riang. Suit-suit. Bertepuk tangan. Beda dengan keadaan tadi yang berantakan. Hei. Ada kue tart di atas meja. Di atasnya ada lilin menyala. Kue itu bertuliskan : Happy Birthday Mom....

Akhirnya, air mata saya menetes juga..

Selasa, 17 Agustus 2010

Diary Sang Guru : Episode 2

Saya agak free hari ini. Maklum, ada acara peringatan HUT Kemerdekaan RI yang ke 63, sehingga saya tidak mengajar. Saya jadi bisa mengerjakan pekerjaan lain.
Sekali-kali saya menyempatkan diri melihat kegiatan murid-murid yang sedang berlomba. Ada lomba kebersihan kelas, lomba makan kerupuk, Lomba ambil uang logam yang diselipkan di buah semangka yang sudah diberi warna hitam. Entah apa itu, sepertinya sih arang yang dihaluskan. Dan ada lomba-lomba lain.

Kadang saya agak tidak mengerti, apa hubungannya sih lomba makan kerupuk dengan kemerdekaan ? Atau lomba panjat pinang dengan kemerdekaan ?
Kemarin saya melihat acara di televisi tentang kemerdekaan ini. Ada reportase tentang arti kemerdekaan dan nasionalisme, kemudian salah satu artis menjawab atas pertanyaan tersebut, katanya: saya mencintai negara saya. saya sudah hafal pancasila dan kelima silanya. Saya ikut upacara bendera di sekolah, begitu jawab seorang siswa.
Dahi saya sempat mengerut. Betapa dangkalnya arti kemerdekaan bagi generasi muda jaman sekarang. Tak ada sedikitpun empati atas perjuangan para pejuang kita dahulu. Coba saja bayangkan peredaran narkoba yang luar biasa. Kalau saja para pejuang itu tahu akan seperti sekarang jadinya Indonesia, jangan-jangan mereka akan membiarkan Indonesia tetap dijajah.

Kembali ke lomba makan kerupuk dan sejenisnya, saya menduga, awalnya yang diinginkan dari lomba ini adalah rasa 'perjuangan' untuk meraih sesuatu. Rasakanlah bagaimana para pejuang 'berjuang' merebut kemerdekaan. Setelah itu, rasa'bahagia' pasti akan tercapai ketika lomba berlangsung. Ada hiburan, bagaimana kerupuk itu akan melompat ke sana kemari ditarik oleh sang pelomba. Pemain dan penonton sama-sama bahagia.
Untuk lomba-lomba yang beregu, tentunya rasa kebersamaan diharapkan terjalin.
Secara, ternyata memang banyak filosofinya yang bisa kita ambil dari lomba-lomba ini, dan 'rasa-rasa' itulah yang selayaknya kita persembahkan dalam perjuangan kita sekarang mengisi kemerdekaan.

Diary Sang Guru : Episode 1

Saya termenung menatap sekolah berpagar biru itu. Sekolah yang bagus. Gedungnya kokoh. 4 lantai. Megah. Uang masuknya sepuluh jutaan pada saat sekolah lain hanya dua jutaan. Secara hitung-hitungan, sekolah ini harusnya 5 kali lebih baik dari sekolah lain. Di sebelah sekolah ini, ada SD Inpres yang kumuh. Catnya mulai mengelupas. Ya, namanya juga sekolah negeri. Lho? apa hubungannya ya ? Hmmm... mungkin saja ada.
Biasanya sekolah negeri kumuh-kumuh. Tak ada yang boleh menyalahkan pendapat saya, karena saya melihatnya begitu. Bahkan di daerah asal saya, ada SD negeri yang ambruk pada saat murid-muridnya sedang belajar. Pastilah tak jauh berbeda dengan SD negeri yang lainnya. Tapi belakangan ini, sekolah-sekolah negeri berbenah. Ada BOS yang mendanai. BOS itu dari pemerintah. Kependekan dari Biaya Operasional Sekolah.
Jadi, biaya operasional penyelenggaraan sekolah sudah dibiayai oleh pemerintah. Selayaknya sih, setelah dana itu turun, pendidikan di negara kita harus lebih baik dari sebelumnya. Tapi entahlah, lingkaran setannya terlampau besar dan mengerikan. Sistem pendidikan yang aneh.

Kita kembali lagi ke sekolah berpagar biru. Sekolah ini adalah tempat saya bekerja. Awalnya, saya tak habis pikir, kenapa murid-muridnya memberi julukan "penjara" pada sekolah sebagus ini.
Saya memang pernah membaca banyak artikel tentang sekolah dan pendapat orang tentang sekolah. Kebanyakan siswa memang menyatakan bahwa sekolah adalah penjara. Lantas, untuk apa mereka mau dipenjara ya? Apa bedanya dengan Penjara Cipinang ?
Hmm... saya sebetulnya agak deg-degan dengan sekolah ini. Jangan-jangan sayapun akan 'terpenjara juga". Kita lihat saja ya...

Umumnya, peraturan yang dibuat sekolah yang demikian ketat, membuat mereka merasa terpenjara. Saya pernah juga mengajar di sekolah lain di lain daerah. Perasaan, peraturannya tak jauh berbeda. Kenapa harus 'serasa di penjara " ya ?

Kita tinggalkan dulu sekolah ini, saya ingin memperkenalkan diri saya. Saya adalah guru di SMA Kencana Mentari ini, terhitung sejak 5 tahun yang lalu. Saya mengajar mata pelajaran ekonomi. Baru satu tahun saya diangkat jadi guru tetap di sini. Sementara, teman-teman yang lainnya 'tetap guru'.. hehe... ini adalah istilah yang beredar banyak di kalangan guru. Mungkin karena setelah 4 tahun baru diangkat jadi guru tetap, sementara guru yang belum 4 tahun tetap berstatus sebagai guru honorer. Karena banyaknya guru honor di sini, maka mereka dengan senang hati bersama-sama menjadi 'tetap guru'.
Guru honor ini adalah guru terbang. Istilah guru terbang diberikan karena sang guru boleh terbang bebas mengajar di sekolah mana saja, tanpa terikat aturan guru tetap. Guru tetap adalah guru yang setiap hari harus standbye di sekolah, ada atau tidak ada jam mengajar. Umumnya mereka mengajar 26 hingga 32 jam pelajaran per minggu. Wow. Jumlah yang fantastis. Tapi tak apalah, sebagai guru, saya merasa lebih terhormat dibanding anggota dewan di sana yang kerjanya cuma rapat doang juga bolos mulu, gaji sangat tinggi...dan lain sebagainya (hhhh... cemburu sosial). Sekali lagi, tak apalah, saya ikhlas. Selain itu, guru tetap juga merangkap sebagai wali kelas, atau jabatan lain yang lebih tinggi.

Saya mencintai dunia mengajar. Saya mencintai saat-saat di mana saya berinteraksi dengan murid-murid saya. Membahagiakan. Tapi, di balik bahagia ini, saya ternyata banyak belajar dari kehidupan mereka. Di epidose yang lain saya akan ceritakan kisah-kisah saya dengan mereka.
Betapa, mereka adalah pualam...kita yang harus mengasahnya sehingga jadi permata.

Saya menyebut catatan ini sebagai Diary Sang Guru.